Home

Mimpi buruk di San Siro

IMG_20171113_214106.jpg

Dalam sebuah pertandingan sepakbola, selalu menghadirkan drama yang menawarkan setiap inci kebahagiaan dan kesedihan. Layaknya perjalanan hidup, kita dituntut berjuang untuk mejuwudkan apa yang menjadi tujuan awal kita. Berbekal tekad, keahlian dan sedikit keberuntungan pastinya.

Sepakbola sendiri bagi sebagian kalangan hanyalah menjadi sebuah permainan biasa. Dimana 11 pemain dari masing-masing tim bermain dalam kurun waktu 2×45 menit untuk menghadirkan gol sebanyak mungkin. Dan pastinya, adalah kemenangan yang menjadi tujuannya. Paling tidak agar dapat berlari lebih jauh dari kesedihan yang menghantui di akhir waktu.

Dilain sisi, ada mereka (tifosi, supporter atau fans) yang menganggap sepakbola adalah sebuah pertaruhan harga diri. Berbicara tentang kecintaan, perjuangan, kesetiaan dan pastinya sebuaj kejayaan yang selalu diimpikan. Sepakbola adalah tempat dimana sepenggal hati seorang supporter diletakkan disana, bersama tim kebanggaan yang telah didukung puluhan tahun lamanya.

Dan hari ini, tepat tanggal 13 November 2017. Sebuah momen menyedihkan terlahir, ditempat yang kusebut rumah, tempat yang menjadi muara mimpiku tentang dunia dan tempat dimana separuh hatiku kuletakkan disana. Bersama keringat para pahlawan tim kebanggaanku sejak kecil (AC Milan). Namun hari ini aku tak berbicara tentang AC Milan, namun tentang warna yang menjadi kebanggaanku dalam menikmati sepakbola. Sebuah negara yang bagiku mampu merepresentasikan indahnya sepakbola di dunia, Italia.

Mungkin kata yang cocok untuk momen ini adalah banjir air mata. Dimana ratusan juta pasang mata menangis, dimana ratusan juta orang menundukkan kepala seraya mengekspresikan kesedihannya. Dan dirumah kamilah (San Siro), kejadian yang tak disangka-sangka itu terjadi. Perjuangan agar selalu masuk dan berjuang pada putaran final Piala Dunia, harus pupus. Mengulang cerita kelam 60 tahun silam, dimana terakhir kalinya tim kebanggaan kami tak ikut serta dalam momen akbar sepakbola dunia tersebut.

Italia harus tersingkir oleh keganasan Pasukan Kuning dari Swedia yang menahan imbang drngan skor 0-0. Dan menandakkan bahwa langkah kami harus terhenti, bersama pluit panjang itulah mimpi indah itu harus dikubur dalam. Tepat dirumah kami, San Siro Stadium.

Saya tak tahu cara untuk mengekspresikan kesedihan dan kekecewaan ini. Maka lewat tulisan ini, berharap dapat mengurangi sedikit demi sedikit kesedihan itu. Air mata takkan pernah mampu menjawabnya, namun tulisan inilah yang akan menjadi bekal untuk mengingat tentang momen kelam kemarin.

Dan untukmu, Gli Azzurri. Saya selalu ada untukmu, berbekal momen pahit ini. Akan lebih kukeraskan suaraku untuk mendukung setiap perjuanganmu. Karena kegagalan bagiku adalah awal untuk mendukungmu tanpa kenal lelah.

Angkat kepalamu, bersiaplah untuk lukis kisah indah yang menantimu. Kami tunggu persembahan terbaikmu.

Untukmu. FORZA AZZURRI PER SEMPRE CON VOI!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s