Home

BELAJAR DARI SOCRATES TUA

indexSemakin berkembangnya peradaban manusia kearah yang semakin sangat kompetitif, mengharuskan kita untuk mempelajari dan menelanjangi ilmu pengetahuan, teknologi, hipotesa, dan filsafat. Pada akhirnya setiap orang dibentuk oleh apa yang dikonsumsinya dan diterima dari lingkungannya.

Peristiwa yang kerap terjadi memaksa kita untuk menyandarkan hal yang bersifat realitas pada hal yang dapat menjelaskan lebih konkrit sebuah peristiwa. Pada akhirnya kita akan sampai pada goresan tangan para pemikir klasik, dan Yunani mengajarkan kita banyak hal. Bahwa keberlangsungan hidup manusia tak hanya tentang makanan untuk tampak kuat, namun layaknya tubuh, Pemikiran membutuhkan asupan yang bernutrisi agar dapat membedah segala kemungkinan lewat rentetan teori para filsuf per tiap masanya. Yunani menawarkan banyak tokoh yang sangat luar biasa dari segi pemikiran, tengoklah Hytagoras, Plato, Thales dan satu yang kujadikan tokoh inspirasiku adalah “Socrates”.

Adalah Socrates (saya lebih suka memanggilnya Socrates tua), pemikir besar yang lahir pada tahun 470 SM dan menutup usianya pada tahun 399 SM (Usia 71 tahun) merupakan sosok penting dalam perkembangan tradisi filosofi barat. Lebih tentang ilmu yang dikemukakan lewat banyak karyanya, ada topik menarik yaitu tentang konsep moral, filsafat moral dan etika.

Beranjak dari semuanya diatas, terdapat sebuah benang merah yang sangat jelas. Menelaah lebih jauh tentang “Indonesia kekinian” dan “Nasehat Socrates tua”. Kita akan mempelajari banyak hal, satu yang sejak dahulu saya jadikan pegangan, adalah kalimatnya yang berbunyi: “..Cobalah dulu, baru cerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirlah dulu, baru berkata. Dengarlah dulu, baru beri penilaian. Bekerjalah dulu, baru berharap.”

Kata yang bagiku menghimpun ini pemikirannya, kayak akan nasehat dan sederhana dalam rupanya. Socrates begitu mempesona lewat pemikirannya dan bersinar terang dengan karyanya yang agung. Ketika kita mentransformasikan nasehatnya menjadi sebuah pegangan, maka akan saya tawari penggalan untuk dijadikan bahan introspeksi diri. “..Pikirlah dulu, baru berkata. Dengarlah dulu, baru beri penilaian.”. kembali pada permasalahan awal yang kuniatkan menyelipkannya dalam tulisan ini, tentang Indonesia kekinian yang disusupi ribuan kebohongan berkedok, atau tentang penguasa yang memperbodoh generasi. Satu yang saya sadari adalah penting bagi kita tanamkan yaitu, di zaman digital dan pesatnya perkembangan teknologi informasi via internet (dan semacamnya) memaksa kita untuk memilih dengan cerdas. Antara menempuh jalan penuh keselamatan dalam balutan pemikiran positif untuk menjadi untuk nan istimewa, atau bergabung bersama kawanan hamba yang saling menjerumuskan pada jurang penuh taktik kebohongan dan kebodohan.

Intinya yaitu “Pikir” dan “Dengar”, kemudian buat landasanargumen yang baik dan kaya makna positif. Agar kamu, aku, dan mereka tak terjebak dalam lingkaran yang merawat subur kebohongan, kebodohan dan kemiskinan.

Untukmu sahabat, jadilah insan yang cerdas dengan akalmu dan tumbuh sehatlah dengan pemikiranmu. Kritis perlu, tanpa harus mengikis unsur ketuhanan, bekal keimanan dan menyembah ekspresi keimanan yang menyesatkan.

Belajarlah dari Socrates tua, tumbuh cerdas dan sehat dengan bekal pemikiranmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s