Home

Nyali terakhir

tentang-langit-juga-rindu3Sore itu layaknya mengalami sebuah ‘Dejavu’, aku berjalan menelusuri lorong sempit yang mengarahkanku ke jalan raya. Sepanjang jalan lorong yang dihiasi tembok tinggi tersebut, terlihat sosok wanita berkerudung hijau yang tampak belakang tubuhnya tak lagi asing lagi bagiku, langkah kakinya mengingatkanku pada seorang wanita remaja yang tak pernah bosan kulihat saat duduk di bangku SMP. Yah, 10 tahun yang lalu peristiwa ini seakan pernah aku rasakan, namun yang berbeda darinya adalah diujung jalan setapak, terlihat jelas wanita tersebut menghampiri lelaki yang motornya terparkir tepat disamping trotoart dekat halte bus.

Perlahan langkahku terhenti sejenak untuk memastikan sosok tersebut, sosok yang sejak hari-hari persiapan UN SMP tidak lagi kulihat bayangnya, kesibukan mempersiapkan diri seakan memenjarakanku, walau harapku untuk bertemu dengannya beberapa detik saja. Sosok itu kupanggil “Aurora”, sosok remaja yang kulihat saat melintasi teras depan kelasku, senyuman indahnya saat bercanda dengan temannya adalah momen pertama aku melihatnya, ia adalah adik kelasku yang terkenal cerdas, ramah dan santun. Keanggunannya seakan membuat cerah penuh warna duniaku, hingga pada akhirnya kelulusan menenggelamkan secara perlahan rasa yang kuanggap sebagai misteri indah itu.

Kali ini di Kota yang berbeda, sosok yang ramah itu kembali muncul dengan kedewasaan yang telah membuatnya tampak anggun mempesona, beberapa kali sempat aku berniat menyapanya. Namun lidahku seakan membeku, kumpulan kata yang kusiapkan rapih puluhan tahun seakan sirna tak berbekas, dan yang paling memalukannya keberanian dalam diriku telah berlari jauh meninggalkan raga yang masih bernyawa ini, Sesaat aku sadar bahwa senyumnya hanya tertuju pada lelaki berjaket yang duduk diatas motornya sambil bertukar sapa seraya tersenyum megah.

Tiba-tiba malam menabrakku, aku terpental jauh sambil menatap kegelapan disekeliling saat sekumpulan warga selesai menunaikan sholat Isya. Malam datang dengan sosok yang masih tak satria dan masih sama dengan bawaan lembut dan feminimnya, menggantikan senja yang dijadikan-Nya sebagai mediator. Gelapnya malam dan udara dinginnya yang tak sekalipun diundang melemparkanku jauh dalam lamunan penuh penyesalan, hingga akhirnya waktu meninabobokanku dengan caranya yang lembut sambil mengusap ubun-ubunku.

Hari semakin lambat tanpa rasa yang menarik, setelah penyesalan yang aku rasakan karena terlalu lama pengecut untuk mengungkapkan rasa yang terpendam begitu lama, rasa yang bertahun-tahun masih saja sama, dengannya kujadikan sebagai aktor Utama. Tak sedikitpun berubahwalau dalam beberapa kesempatan sering kutemui sosok itu bercerita dengan si lelaki pilihannya saat ini, beberapa kali kulihat rona bahagia terpancar dari wajahnya yang kukagumi, walaupun harapan terbesar adalah aku yang menjadi alamat dari senyum bahagia itu belum terkabulkan.

Penyesalanku begitu menyayat, walau doaku bertahun-tahun telah dijawab oleh-Nya lewat drama yang begitu menyakitkan, Yah, ketika aku bukan menjadi sosok yang melukis senyum bahagia di wajahnya, dan paling tidak doaku masih dan akan selalu kualamatkan untukmu. Bahkan kau adalah kumpulan cerita yang menghiasi blog kusamku.

Segelas kopi pekat menemaniku, dengan layar laptop yang masih saja menyala. Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa yang telah bersemayam bertahun-tahun lamanya. Yah, aku bukanlah orang yang main bermain rasa, bahkan kabar tentangmu yang kudapat adalah anugerah terbesar dan balasan chating kepadaku adalah sebuah kebahagiaan yang sulit kulukisdengan tinta emas sekalipun. Walau aku sadar bahwa saat itu hanya balasan salam yang terlontar lewat keyboardmu. Ketakutan terbesarku selama ini adalah akan semakin beda penilaianmu terhadapku, terhadap rasa, atau bahkan mungkin bagimu aku tak lebih dari kumpulan pengganggumu di media sosialmu.

Malam itu kuberanikan jariku menerjang deretan tombol keyboard yang tersusun rapih, perlahan kalimat yang mewakili nyali dan perasaankulukiskan dengan panjangnya. Dengan tenang dan pikir panjang kuselipkan harapan, namun kenyataannya ada lelaki diluar sana yang telah kau titipkan rasa dan hatimu untuknya.

Tepat hari Senin pukul 22.52 menit, dengan penuh pengharapan tombol enter perlahan kutekan, beberpa bulir keringat tak sadar telah jatuh membasahi meja kecil tempat yang selalu kujadikansaksi ketika bercinta dalam diam, meja yangmengerti betul rasa yang kupendam bertahun-tahun lamanya.

Namun, dibalik chating panjangku untukmu, ingin kuucapkan kepadamu, bahwa teruslah bahagia. Jangan lenyapkan senyum indahmuaku hanyalah dunia kecil yang selalu menyebut indah namamu dengan penuh penghayatan, dan aku akan selalu ada untuk menyelipkan namamu dalam doa di Sepertiga malam, disaat orang lain tertidur, Karena bagiku, disitulah tempatku berbisik kepada-Nya, tentangmu.

Cukuplah untukku dengan menintaimu dalam diam, melukismu lewat tulisan dan mengalamatkan rindu untukmu dalam waktu yang tak berjedah.

Tetaplah bahagia

Dari, yang akan selalu mengagumimu

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s